Asal mula hubungan cinta itu adalah seruan hati : ”Hendaknya engkau menjalani hidup bersama aku. Andaikata seruan itu kau jawab dengan membuka hati bagi aku, yang telah terbuka bagi engkau, maka dapat dimulai hidup bersama dalam cinta”, syaratnya ialah kerendahan hati pada orang yang memanggil, kesediaan pada orang yang dipanggil.

Supaya hubungan cinta berhasil perlulah keterlibatan yakni kehendak untuk menyertai seorang lain dalam hidupnya, baik dalam perasaan-perasaannya dan cita-citanya maupun dalam perbuatan-perbuatannya. Akibatnya terjadi suatu perserikatan : aku dan engkau menjadi kita. Secara demikian hidup pribadi kedua orang berubah sama sekali. Mereka melepaskan hidupnya dan dunianya individuil untuk masuk hidup dan dunia bersama.

011.jpg

Kebenaran itu ibarat kaca yang pecah, masing-masing mengambil potongannya dan menganggap potongan dari pecahan kaca yang dipegangnyalah yang paling benar dan parahnya, untuk menunjukkan bahwa pecahan kaca yang ada pada dirinya adalah yang paling benar, mereka saling menusukkannya. Padahal kalau saja pecahan kaca tersebut di urutkan dan direkatkan satu-persatu niscahya akan menjadi cermin kebenaran yang indah untuk semua. Begitulah kira-kira pendapat seorang bijak.

Kecuali kebenaran eksakta, Kebenaran memang bersifat relatif, Kebenaran hanya melekat pada dirinya sendiri, apa yang dianggap satu kelompok sebagai kebenaran belum tentu di benarkan oleh kelompok yang lain, begitupula sebaliknya. Maka disinilah dibutuhkan toleransi, pemikiran moderat, kedalaman berpikir, tidak berpikir dangkal bahwa dunia adalah dirinya, kebenaran adalah dirinya,tidak ada orang lain yang berhak eksis selain dirinya. tetapi harus berpikir bahwa dirinya adalah bagian dari dunia. Karena kalau masing-masing merasa paling benar dan menafikan keyakinan tentang hal-hal yang benar menurut orang lain/kelompok lain, maka akan muncul potensi konflik, perpecahan, peperangan. dan justru disitulah sebab sebab terjadinya peperangan diantara umat manusia di dunia.

Indonesia adalah negeri dengan ribuan pulau, beragam suku bangsa, ras, etnis dan agama. Masing-masing suku, masing-masing ras, masing-masing etnis, dan masing-masing agama mempunyai keyakinan akan nilai-nilai kebenaran yang dianut, yang satu sama lain belum tentu sama dan satu sama lain ada potensi berbeda pandangan akan nilai kebenaran, nilai apa yang benar, keyakinan tentang kebenaran yang dianut untuk mengatur prilaku dalam kehidupan. Untuk itu dibutuhkan bangunan rasa toleransi dalam kehidupan berbangsa. Jika salah satu ras/kelompok/agama mendeklarasikan diri sebagai kelompok yang paling benar, maka tinggal tunggulah kehancurannya.

 Disuatu tempat, entah dimana.